Sejarah PT. Pos Indonesia

Pos Indonesia merupakan sebuah badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang layanan pos yang berbentuk pengiriman surat, pengiriman uang maupun pengiriman paket. Saat ini, bentuk usaha Pos Indonesia merupakan perseroan terbatas dan sering disebut dengan PT. Pos Indonesia. Bentuk usaha Pos Indonesia ini berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1995. Peraturan pemerintah tersebut berisi tentang pengalihan bentuk awal Pos Indonesia yang berupa perusahaan umum (perum) menjadi sebuah perusahaan (persero). Pos Indonesia memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang dicatatkan di Akta Notaris Sutjipto, S. H. Nomor 117 pada tanggal 20 Juni 1995 yang juga telah mengalami perubahan sebagaimana yang dicatatkan di Akta Notaris Sutjipto, S. H. Nomor 89 pada tanggal 21 September 1998 dan Nomor 111 pada tanggal 28 Oktober 1998.

Dunia perposan modern muncul di Indonesia sejak tahun 1602 pada saat VOC menguasai bumi nusantara ini. pada saat itu, perhubungan pos hanya dilakukan di kota-kota tertentu yang berada di pulau Jawa dan luar pulau Jawa. Surat-surat atau paket-paket pos hanya diletakkan di stadsherberg atau gedung penginapan kota sehingga orang-orang harus selalu mengecek apakah ada surat atau paket untuknya di dalam gedung itu. Untuk meningkatkan keamanan surat-surat dan paket-paket pos tersebut, Gubernur Jenderal G. W. Baron Van Imhoff mendirikan kantor pos pertama di Indonesia yang terletak di Batavia (Jakarta).

Era kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels di VOC membuat sebuah kemajuan yang cukup berarti di dalam pelayanan pos di nusantara. Kemajuan tersebut berupa pembuatan jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan. Jalan sepanjang 1.000 km ini sangat membantu dalam mempercepat pengantaran surat-surat dan paket-paket antar kota di pulau Jawa. Jalan yang dibuat dengan metode rodi (kerja paksa) ini dikenal dengan nama Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Dengan adanya jalan ini, perjalanan antara provinsi Jawa Barat sampai provinsi Jawa Timur, yang awalnya bisa memakan waktu puluhan hari, bisa ditempuh dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

Arus perkembangan teknologi telepon dan telegraf yang masuk ke Indonesia pun mengubah sistem pelayanan pos di Indonesia. Pada tahun 1906, pos di Indonesia pun akhirnya berubah menjadi Posts Telehgraafend Dienst atau jawatan pos, telegraf, dan telepon (PTT). Layanan pos awalnya berpusat di Welrevender (Gambir) juga berpindah ke dinas Pekerjaan Umum atau Burgerlijke Openbare Werker (BOW) di Bandung pada tahun 1923. Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, jawatan PTT dikuasai oleh militer Jepang. Angkatan Muda PTT (AMPTT) mengambil alih kekuasaan Jawatan PTT tersebut dan kemudian secara resmi berubah menjadi Jawatan PTT Republik Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 27 September 1945. Hari itu pun diperingati sebagai Hari Bakti PTT atau Hari Bakti Parpostel.

Cukup banyak perubahan dalam sistem Pos Indonesia sendiri. Perubahan tersebut terlihat dari bentuk badan usaha yang dimiliki oleh Pos Indonesia secara terus-menerus dari tahun ke tahun. Pada tahun 1961, Pos Indonesia resmi menjadi perusahaan negara berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 240 Tahun 1961. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa jawatan PTT itu kemudian berubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Setalah menjadi Perusahaan Negara, Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel) mengalami pemecahan menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Hal ini bertujuan untuk mencapai perkembangan yang lebih luas bagi dari masing-masing badan usaha milik negara (BUMN) ini. pemecahan PN Postel menjadi PN Pos dan Giro dan PN Telekomunikasi ini memiliki legalitas hokum melalui peraturah pemerintah Nomor 29 tahun 1965 dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1965.

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1978 untuk mengubah lagi bentuk badan usaha dari pelayanan pos di Indonesia ini (melalui PN Pos dan Giro). Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, Perusahaan Pos dan Giro berubah menjadi Perusahaan Umum Pos dan Giro (Perum Pos dan Giro). Hal ini bertujuan untuk semakin mempermudah keleluasaan pelayanan pos bagi masyarakat Indonesia. Perubahan bentuk usaha dari sebuah perusahaan negara menjadi perusahaan umum ini pun disempurnakan lagi supaya bisa mengikuti iklim usaha yang sedang berkembang melalui keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1984 mengenai tata cara pembinaan dan pengawasan. Setelah beberapa tahun memberikan pelayanan dengan statusnya sebagai perusahaan umum, Pos Indonesia mengalami perubahan status atau bentuk usaha lagi. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1995, Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT. Pos Indonesia (Persero). Hal ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas dan kedinamisan untuk PT. Pos Indonesia (Persero) sehingga bisa lebih baik dalam melayani masyarakat dan menghadapi perkembangan dunia bisnis yang semakin ketat.

Visi,  misi dan budaya PT. Pos Indonesia

a.      Visi

Menjadi pemimpin pasar di Indonesia dengan menyediakan layanan suratpos, paket dan logistik yang handal serta jasa keuangan yang terpercaya.

b.      Misi

  • Berkomitmen kepada pelanggan untuk menyediakan layanan yang selalu tepat waktu dan nilai terbaik.
  • Berkomitmen kepada karyawan untuk memberi iklim kerja yang aman, nyaman dan menghargai kontribusi.
  • Berkomitmen kepada pemegang saham untuk memberikan hasil usaha yang menguntungkan dan terus bertumbuh.
  • Berkomitmen untuk berkontribusi positif kepada masyarakat.
  • Berkomitmen untuk berprilaku transparan dan terpercaya kepada seluruh pemangku kepentingan.

Keyakinan Dasar :

–     Karyawan yang Bertalenta (Talented People).

–     Keunggulan Layanan (Excellence Service).

–     Nilai-nilai bagi Kastemer (Customer Values).

–     Pertumbuhan Kinerja Keuangan yang Tinggi dan Berkelanjutan (Sustainable Outstanding Financial Performance).

Nilai-nilai Dasar :

–     Regangkan Tujuan (Stretching Goals).

–     Integritas (Integrity).

–     Berpikir Kesisteman (System Thinking)

–     Berani dan Bertanggung jawab (Courage and Responsible).

–     Penghargaan Berbasis Kinerja (Reward Based on Performance).

Jenis Layanan dan Produk dari Pos Indonesia

Berikut ini adalah berbagai jenis layanan yang disediakan oleh PT Pos Indonesia (Persero):

  1. Layanan Standar

Layanan standar terdiri dari Suratpos Tercatat, Surapos Biasa, Paketpos Biasa, Weselpos, Weselpos Tagih dan Giropo

2. Layanan Customized

Layanan Customized merupakan layanan perlakuan khusus dari weselpos atau giropos  yang disebut dengan layanan keagenan/kemitraan. Layanan kemitraan dapat dikelompokkan kembali sesuai dengan jenis layanan yaitu tabungan, penyaluran dana, pembayaran tagihan dan retail (penjualan benda-benda pihak ketiga melalui pos).

3. Layanan Pengembangan

Pos Indonesia menjadi sentra pembayaran bagi berbagai instansi melalui layanan System on-line payment point. Melalui system on-line payment point, memungkinkan Pos Indonesia bertindak sebagai wakil suatu instansi (sebagai produsen) untuk menerima pembayaran atas suatu jasa yang diberikan (kepada konsumen) oleh instansi tersebut. Dengan fasilitas payment point, produsen mendapatkan kemudahan dalam menerima pembayaran/iuran rutin dalam periode tertentu.

4. Layanan Perluasan

Termasuk dalam layanan perluasan adalah Poserba yaitu merupakan pengembangan fasilitas pelayanan fisik loket kantor pos dengan mengacu kepada konsep “One Stop Shopping”. Poserba hadir untuk melayani tuntas segala kebutuhan tentang pos untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi setiap pengunjung yang datang. Poserba menyediakan semua kebutuhan yang berhubungan dengan pos dan berbagai alat tulis menulis termasuk kartu ucapan dan benda filateli dalam kemasan khusus.

5. Layanan Prioritas

Terdiri dari Suratpos Kilat Khusus, Suratpos Kilat, Paketpos Kilat Khusus, Weselpos Prima, Giropos Prima.

6. Aliansi

Aliansi yang dibangun mengutamakan pola kemitraan yang saling menguntungkan yang akan dapat menimbulkan sinergi keunggulan yang dimiliki masing-masing, mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi idle capacity. Secara bersamaan juga akan memberikan dampak positif untuk meningkatkan kualitas layanan pos secara umum. Sehingga kebutuhan akan perlunya investasi baru dapat dipenuhi dan layanan operasional akan berjalan semakin lancar. Beberapa jenis layanan yang dikembangkan dengan pola aliansi strategis adalah Speedpost dengan DHL, Speedcargo dengan GPIG/Airbone, Expresspost dengan TNT Express, dan Western Union Money Transfer dengan Western Union.

7. Dukungan bagi Aktifitas Bisnis Keuangan dan Keagenan

  • Pengembangan layanan system On-line Payment Point untuk pembayaran tagihan rekening perusahaan lain seperti PT TELKOM, PAM, PT PLN, PT Telkomsel, PT Satelindo.
  • Pengembangan Layanan Tabungan dari cara off-line menjadi on-line bekerjasama dengan vendor mitra kerja.
  • Pengembangan Weselpos Khusus Perbankan yaitu penguangan weselpos pada jaringan ATM yang dikembangkan industri perbankan.
  • Pengembangan payroll payment untuk pembayaran gaji pegawai perusahaan swasta.

Implementasi Marketing Pos Indonesia

A. Bisnis Komunikasi  dan Bisnis Filateli

Produk Inti:

Surat Pos Tercatat/R, Surat Pos Biasa, Surat Pos Kilat, Surat Pos Kilat Khusus, Surat Pos Perlakuan Khusus.

Produk Pengembangan:

Produk Inti Filateli, Produk Kreatif/Inovatif Filateli.

Produk Perluasan:

Layanan internet, Waralaba

B. Bisnis Logistik

Produk Inti:

Paket Pos Biasa, Paket Pos Kilat Khusus, dan Paket Pos Perlakuan Khusus.

Produk Pengembangan:

Paket Pos Optima, Paket Pos Point to Point, Warehousing.

C. Bisnis Keuangan dan Keagenan

Produk Inti:

Weselpos, Giropos, Weselpos Prima, Giropos Prima, Kemitraan.

Produk Pengembangan:

Cekpos Wisata, Weselpos Tagih, Sispenas.

Produk Perluasan:

Poserba.

 

Pesaing

Dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan jasa pengiriman swasta baru ditingkat nasional seperti Tiki, DFX dan lain-lainnya, maka persaingan diantara pengusaha lokal di Indonesia akan terus meningkat.

 

kompetitor pos indonesia

       Gambar 2.2

Logo-logo Kompetitor

Saat ini jasa pos bertingkat internasional juga telah merambah ke Indonesia, seperti contohnya: FedEx, DHL, dan lainnya. Dengan menawarkan teknologi yang lebih canggih dan juga menawarkan pengiriman ke luar negeri dalam waktu yang lebih cepat, maka perusahaan-perusahaan jasa pos lokal mendapatkan tantangan berat dari perusahaan-perusahaan asing tersebut.

Analisa SWOT

A. Strength

  1. Pos Indonesia merupakan perusahaan jasa pos pertama yang berdiri di Indonesia dan masyarakat sudah jauh lebih dahulu mengenal Pos Indonesia apabila dibandingkan dengan perusahaan jasa pos lainnya yang ada di Indonesia.
  2. Luasnya jaringan cabang kantor pos diseluruh pelosok Indonesia merupakan salah satu keunggulan yaitu berupa jangkauan yang sangat luas untuk sebuah jasa pos. Hal ini bisa menjadikan Pos Indonesia sebagai pilihan utama konsumen untuk pengiriman dalam negeri.
  3. Kantor Pos Indonesia yang memiliki peranan multifungsi yang tidak dimiliki oleh kantor pos swasta. Peran multifungsi ini memudahkan masyarakat untuk berkirim surat sekaligus juga dapat melakukan berbagai transaksi keuangan, seperti pembayaran listrik, telepon, atau untuk berbagai keperluan lainnya seperti menabung, membeli berbagai keperluan surat-menyurat, alat tulis, sampai dengan membeli perangko kuno untuk dikoleksi.

B. Weakness

  1. Kesan kuno dan kurang modern yang masih melekat pada Pos Indonesia sedikit banyak mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan jasa pos mana yang ingin mereka gunakan.
  2. Target pasar yang sangat luas menyebabkan Pos Indonesia kurang fokus dalam melayani suatu kalangan konsumen dengan keperluan spesifik tertentu.
  3. Penggunaan identitas visual yang kurang konsisten dalam setiap pengaplikasiannya menimbulkan citra bahwa Pos Indonesia tidak terorganisasi dengan baik.

C. Opportunity

  1. Dengan adanya berbagai peningkatan teknologi baru, seperti contohnya layanan Jejak Lacak (Track and Trace) dan juga berbagai fasilitas layanan-layanan baru lainnya dapat meningkatkan rasa percaya konsumen terhadap kualitas dari jasa Pos Indonesia.
  2. Dengan menawarkan harga yang lebih bersifat ekonomis apabila dibandingkan dengan jasa pos swasta dan internasional, maka diharapkan Pos Indonesia dapat meraih jangkauan konsumen menengah ke bawah.

D. Threat

  1. Perusahaan-perusahaan jasa pos internasional yang didukung dengan teknologi canggih dan lebih modern, disertai dengan promosi yang jauh lebih gencar dibandingkan perusahaan jasa pos lokal dapat menjadi ancaman bagi perusahaan- perusahaan lokal, termasuk Pos Indonesia.
  2. Semakin meluasnya pasar global, maka dapat dipastikan semakin banyak pulalah perusahaan-perusahaan asing yang melakukan ekspansi bisnis mereka ke pasaran Indonesia, seperti contohnya perusahaan-perusahaan jasa pos dari Jepang dan Korea sudah mempersiapkan memperluas pasaran barunya di tingkat Asia.

About yanzdrughi

its me :: ¤═══¤۩۞۩ஜ▀ஜ۩۞۩¤═══¤ ██ 1. Allah S.W.T ███ 2. Nabi Muhammad S.A.W ████ 3. Keluarga █████ 4. Juventus ¤═══¤۩۞۩ஜ▄ஜ۩۞۩¤═══¤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s